SERVANT LEADERSHIP
Servant leadersip adalah konsep yang digagas oleh Robert K. Greenleaf, sebuah filosofi bahwa seorang pemimpin harusnya bertindak sebagai pelayan. Berbeda dari konsep tradisional leadership yang berkembang sebelumnya, dimana seorang pemimpin bertugas untuk mengembangkan perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya, filosofi servant leadership ini meletakan kebutuhan karyawan atau orang yang dipimpinnya sebagai hal utama yang harus terpenuhi, dan membantu mereka untuk berkembang dan berkinerja secara optimal.
Seorang servant leader focus pada, “Apakah karyawan dan seluruh yang dipimpinnya sudah dilayani dengan baik?”, “Apakah karyawan dan orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih sehat, lebih bijaksana, lebih memperoleh kebebasan, lebih mandiri, dan lebih puas atas dirinya?”
Dengan premis bahwa jika karyawan bahagia dan berkembang dengan baik, maka organisasi pun akan berkembang dan karyawan akan semakin meningkat komitmen serta keterikatannya (engagement) pada oraganisasi.

Bagi saya pribadi servant leadership adalah salah satu bentuk situasional leadership yang menjadi salah satu pilihan bergantung pada situasi yang dihadapi, seperti konsep yang disampaikan Daniel Goleman. Ada kalanya sebuah kondisi membutuhkan Anda menjadi seorang pacesetting, authoritative, coaching, democratic, affiliative, bahkan coersive.
Dalam kasus tertentu Anda mungkin memerlukan gaya kepemimpinan servant leader, namun dalam siatuasi berbeda Anda membutuhkan gaya kepimimpinan yang lain
Kisah nyata dari sosok seorang servant leader dalam pandangan saya adalah sosok seorang Umar bin Khattab, Khalifah ummat Islam yang ke-2 setelah Abu Bakar Ash Shiddiq yang dijuluki Amirul Mukminin, seorang panglima perang yang dijuluki Singa Padang Pasir. Dalam masa pemerintahan Umar bin Khattab, Islam pun berhasil berkembang dengan sangat pesat. Islam berhasil merebut sebagian wilayah Persia, Mesir, Palestina, Suriah, dan lainnya. Bahkan dalam kepemimpinan Umar, pasukan Islam juga mampu menaklukan pasukan Romawi yang terkenal sangat kejam dan ditakuti. Beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas, tak segan menghukum rakyat yang melanggar peraturan.
Suatu masa tanah Arab pernah mengalami paceklik yang amat memprihatinkan. Hujan lama tak turun. Lahan menjadi tandus. Tanaman warga tak bisa dipanen karena kering kerontang. Jumlah hewan ternak yang mati juga sudah tak dapat dihitung. Keputusasaan mendera hampir di seluruh masyarakat. Khalifah Umar Bin Khattab mengeluarkan kebijakan agar setiap hari dilakukan pemotongan unta agar dagingnya bisa dinikmati oleh warga. Sedangkan ia memilih untuk berpuasa dari makanan enak.
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, Umar pun tak segan masuk keluar kampung. Pada suatu malam Umar yang ditemani Aslam mengunjungi sebuah perkampungan terpencil yang terletak di tengah gurun sepi. Saat memasuki daerah tersebut mereka terkejut saat mendengar isak tangis dari sebuah gubuk tua. Mereka pun bergegas mendekati gubuk tersebut untuk memastikan suara apakah itu.
Setelah mendekat, Khalifah melihat seorang perempuan tua sedang memasak. Asap mengepul dari panci yang ia aduk. Sementara di sampingnya tampak seorang anak perempuan yang masih saja menangis. Karena penasaran Umar pun meminta izin untuk masuk.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam tersebut, si Ibu hanya sekedar menoleh dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Siapa yang tengah menangis, apakah dia sakit?” tanya Umar.
“Anakku. Dia tidak sedang sakit. Ia hanya sedang kelaparan” jawab perempuan tanpa menoleh ke arah Umar.
Khalifah Umar dan Aslam terperanjat. Mereka terdiam. Hingga akhirnya keduanya memilih untuk tetap berada di rumah tersebut. Umar dan Aslam duduk hingga satu jam lamanya. Sepanjang itu pula si perempuan tua masih saja mengaduk panci dengan sendok panjangnya. Dan sepanjang itu pula si anak perempuan terus menangis.
“Apa yang sedang engkau masak, wahai Ibu? Kenapa masakanmu tidak kunjung matang?” tanya Khalifah Umar penasaran.
“Ayo kemari, coba engkau lihat sendiri” Kata perempuan tua tersebut sambil menoleh ke arah Umar dan Aslam.
Umar dan Aslam segera mendekat ke arah panci dan melihat ke dalamnya. Namun alangkah terkejutnya Umar saat melihat isi panci tersebut.
“Engkau merebus batu?” tanya Umar tidak percaya.
Perempuan itu hanya menganggukkan kepala.
“Aku melakukan ini agar anak-anakku terhibur. Agar mereka mengira aku sedang memasak. Sebagai seorang janda miskin apa yang bisa aku lakukan. Meminta anak-anakku berpuasa dan berharap seseorang mengantarkan makanan untuk berbuka. Tapi hingga magrib tiba tak seorang pun yang datang. Anakku tertidur karena mereka kelelahan setelah seharian menangis”
Umar tertegun. Tak ada kalimat yang bisa diucapkan. Umar merasa bersalah karena masih ada rakyatnya yang menangis karena kelaparan.
“Seperti inilah yang telah dilakukan Khalifah Umar kepadaku. Dia membiarkan kami kelaparan. Ia tidak mau melihat ke bawah, memastikan kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum”
Ibu itu diam sejenak. “Umar bin Khattab bukanlah pemimpin yang baik. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu, Aslam ingin menegur namun dihalangi oleh Umar. Khalifah segera bangkit dan meminta izin kepada si Ibu. Dengan air mata berlinang ia mengajak Aslam untuk segera kembali ke Madinah. Tanpa beristirahat, Umar segera mengambil gandum lalu memilkulnya sendiri.
“Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya saja yang memikul karung tersebut” pinta Aslam yang tak tega melihat Amirul Mukminin yang tampak kelelahan.
Mendengar permintaan tersebut Umar bukannya senang melainkan marah. Mukanya merah padam. Umar menjawab, “Wahai Aslam, apakah engkau mau menjerumuskan aku ke dalam api neraka. Apakah engkau kira setelah menggantikan aku memikul karung ini maka engkau akan memikul beban ku nanti di akhirat kelak? “
Aslam tertunduk. Ia hanya bisa berdiri mematung ketika melihat Khalifah Umar bin Khattab berjuang keras memikul karung gandum tersebut untuk diserahkan langsung kepada perempuan itu. (Ket: kisah ini ditulis ulang dari berbagai sumber)
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(Hadits Riwayat Bukhari no: 4789)
No comments:
Post a Comment